News & Info

Mengikuti ajang perlombaan merupakan hal yang lumrah bagi santri Ar-Rohmah Putri. Mulai Olimpiade-olimpiade ilmu eksakta, berbagai macam pidato, hingga lomba tahfidzul ataupun tilawatil Quraan. Namun, ada yang sedikit berbeda untuk tahun ini. Ar-Rohmah Putri mengirimkan 3 delegasi untuk mengikuti ajang “Lomba Cinta Bahasa Indonesia” atau bisa disebut Olimpiade Bahasa Indonesia se-Jawa Timur yang diadakan oleh Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

“Olimpiade Bahasa Indonesia?”

Ya! Sederet tanda tanya sempat terlintas di benak Alfiyah Fadhilatul Firdaus, Fatin Nazihah dan Nur Aidatuzzahro saat diminta menjadi delegasi SMA Ar-Rohmah Putri pada lomba tersebut. Alhamdulillah, ustadzah Arvita Ummu Amaroh selaku guru Bahasa Indonesia dan Pembina, perlahan-lahan mengarahkan ketiga santriwati kelas XII IPA tersebut.

Baca Juga:

Perlu kita ketahui, Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional Republik Indonesia yang penggunaannya dilindungi Undang-undang Dasar Negara. Sayangnya, semakin lama kemurnian bahasa tersebut mulai luntur dengan munculnya prokem (bahasa gaul) dan berbagai kata serapan. Padahal, Bahasa Indonesia dengan struktur dan morfologi kebahasaan serta penggunaannya apabila dimaksimalkan bisa saja menjadi Bahasa Internasional, khususnya pada Era Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Melauli olimpiade inilah, Universitas Negeri Malang mengundang seluruh siswa se-Jawa Timur untuk berkompetisi dan melihat seberapa jauh kemampuan dan pemahaman pemuda-pemudi Indonesia terhadap bahasanya. Ada 4 babak yang harus dilalui. Babak I peserta diminta mengerjakan 30 soal selama 30 menit. Pada babak II, peserta yang lolos diberikan sejenis artikel ilmiah dengan paragraph acak yang harus disusun dan ditulis kembali. Selanjutnya pada babak III, peserta yang lolos diberikan waktu untuk menyampaikan orasi dengan tema Bahasa Indonesia yang dipengaruhi prokem atau Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional. Terakhir tersisa 5 finalis yang diharuskan untuk mengikuti debat terbuka dengan mosi “ Gengsi Bahasa dan Implikasinya”. Dihadapan dewan juri, masing-masing peserta boleh menyanggah dan menyampaikan pendapat secara bebas tanpa ditentukan pro dan kontra.

Baca Juga:  Raih Trophy di MTQ Universitas Muhammadiyah Malang

Setelah melalui seluruh babak dan menjadi satu-satunya peserta yang kontra dalam debat terbuka, Nur Aidatuzzahro berhasil meraih Juara Harapan 1. Perasaan kaget sangat terasa, karena ini merupakan pengalaman yang cukup melelahkan, dan pastinya rumit. Maka, sebagai generasi keemasan, tentu seharusnya kita melestarikan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bisa karena terbiasa, dimulai dari hal kecil mari kita tebar manfaat bagi sesame. Dimana kaki kita berpijak, disanalah diri kita sebagai agen perubahan.

Selamat kepada Nur Aidatuzzahro dari kelas XII IPA 1, semoga barokah dan selalu menginspirasi dalam kebaikan. (Arfita)

Author: Ar-Rohmah Putri

Tinggalkan Balasan