Dimensi-dimensi Penunjang

Dimensi-dimensi penunjang itu adalah : peranan bahasa, metode tauhid untuk menganilis ide, dan instrument didaktik lainnya seperti metafora, perumpamaan dan cerita. Dimensi-dimensi ini menjadi komponen pendidikan yang sangat penting bagi ilmuwan Muslim pada masa lalu, dan kini dapat diaplikasikan dalam dunia modern.

Peranan Bahasa

Pendidikan adalah produk bahasa dan bergantung pada bahasa. Bahasa memiliki kepentingan mendasar sebagai alat dan sarana keagamaan, kebudayaan dan peradaban. Untuk menggambarkan bagaimana bahasa dipakai secara halus untuk orientasi ideologi, seorang pakar menggambarkan :

“ Bahasa, konsep dan gaya wacana kita sangat penting, sebab semua itu mencerminkan dan mempertajam bagaimana kita melihat, berpikir, belajar, dan bertindak dalam masalah-masalah pengajaran dan perbaikannya. Bahasa yang dipakai untuk membatasi (gambaran) keadaan, problematika, dan solusi mestilah selektif. Tidak peduli seberapa besar keilmiahan dan kerasionalan bahasa dan wacana kita, yang jelas semua itu tidak bebas nilai.”

Bahasa Arab menjadi materi fardlu’ain dan dan siswa dibiasakan menggunakannya dalam kehidupan siswa sehari-hari adalah karena Bahasa Arab bukanlah milik bangsa Arab saja, melainkan merupakan milik Islam dan seluruh umat Islam. Siswa harus meletakkan penggunaan bahasa Arab dengan benar dan tepat karena perubahan dasar dalam struktur semantik istilah-istilah dan konsep-konsep pokok yang terdapat dalam bahasa Arab akan mengakibatkan kebingungan dan kerancuan dalam kehidupan keagamaan dan kebudayaan semua muslim.

Dalam sejarah, sarana utama islamisasi bangsa Arab pra-Islam adalah melalui islamisasi bahasa Arab itu sendiri. Demikian pula de-islamisasi atau sekularisasi pemikiran Muslim juga berlangsung secara efektif melaui aspek linguistik , yaitu melaui sekularisasi semantik terhadap konsep dan terminologi Islam.

Tentu saja, untuk dapat menguasai bahasa Arab dengan baik, pertama-tama siswa harus dapat menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Karenanya bahasa Indonesia juga menjadi materi fardlu’ain yang harus dikuasai siswa dengan hasil yang memuaskan. Setelah bahasa Indonesia dan bahasa Arab ini dikuasai dengan baik, siswa dapat mempelajari bahasa asing lainnya ( Bahasa Inggris, misalnya) sebagai bagaian dari ilmu fardlu kifayah.

Metode Tauhid

Dalam pendidikan ini, doktrin tauhid diimplementasikan dengan :

  1. Menghasilkan individu-individu yang Universal. Universal berarti individu yang menguasai semua disiplin ilmu dan tidak hanya memilki spesialisasi dalam satu atau dua disiplin ilmu. Jelas berbeda dengan pendidikan Barat yang mengkotak-kotakkan ilmu sehingga menjadi terpisah-pisah dengan spesialisasinya di setiap bidang. Akibat dari sistem seperti ini adalah individu-individu yang hanya menguasai sebagian kecil dari ilmu yang begitu luas, tanpa ada upaya menyatukan semua disiplin. Hasilnya adalah terbentuknya sudut pandang-sudut pandang yang berbeda dan tidak jarang berbentrokan satu-sama lain, seperti sudut pandang religius, ekonomi, historis, sosiologis, dst.
  2. Meniadakan kategorisasi pendidikan yang terbagi menjadi aspek-aspek formal, informal, dan non formal, karena ini tidak pernah terjadi dalam sejarah pendidikan Islam. Ini bukan saja tidak dapat diterima, melainkan juga sangat berbahaya. Sebenarnya, pendidikan sebagai ta’dibbersifat formal secara terus-menerus : niat-perbuatan, yang diharapkan dari murid dan guru, serta status spiritual kegiatan-kegiatan pendidikan itu sama dimana saja. Keseriusan perintah Al-Qur’an yang dilaksanakan oleh seorang ibu kepada anak-anaknya di rumah sendiri adalah sama dengan keseriusan seorang guru yang profesional di masjid/kelas dengan puluhan/ratusan murid. Ini juga berati bahwa dalam ta’dib harus ada kesatuan pendidikan antara di sekolah dan di rumah.
  3. Mengaplikasikan pelbagai metode di dalam penyelidikannya, seperti religius dan ilmiah, empiris dan rasional, deduktif dan induktif, subyektif dan obyektif tanpa menjadikan salah satu metode lebih dominan dari yang lain. Metode tauhid ini menyelesaikan problematika dikotomi yang salah.Obyektif dan subyektif tidak dapat dipisahkan, sebab hal itu merupakan aspek dari realitas yang sama sehingga satu sama lain saling melengkapi. Misalnya, seorang arsitek akan dapat bersikap obyektif jika mengetahui rumah yang telah didesain. Namun, dia tidak akan mengetahui keadaan yang sebenarnya dari rumah itu sebelum berdiam di rumah tersebut. Hanya dengan mendiami rumah tersebut dia dapat mengetahui ruangan mana yang lebih nyaman pada saat itu. Penilaian subyektif ini tidaklah menghilangkan aspek luar yang obyektif dari pengetahuan mengenai rumah.
  4. Meniadakan dikotomi antara apa yang dianggap teori dan praktek. Jika benar-benar mengetahui suatu teori, seorang mestinya mampu melaksanakannya dalam praktek, kecuali jika terhalang sebab-sebab eksternal yang tak dapat dielakkan.
  5. Memenuhi dengan baik dua aspek kebutuhan manusia , yaitu jasad dan ruh. Jasad adalah sangat penting dalam turunnya ilmu karena jasad adalah rumah panca indera kita. Tanpanya kita tidak akan bisa membaca data dan informasi yang terkandung dalam ayat-ayat kebesaran Allah di alam semesta. Untuk itu, jasad adalah receiver yang bergesekan langsung dengan alam semesta. Ruh, atas perintah Allah, ditiupkan ke dalam jasad manusia, sehingga pada pertemuan kedua unsur ini (ruh dan jasad) hiduplah seorang manusia. Selama ruh itu masih berada dalam tubuh, maka jasad itu akan tetap hidup. Merujuk kepada kondisi (ahwal) Ruh kita akan menemui terminologi-terminologi sbb : aql/intelek,nafs/jiwa, qalb/hati, ruh/spirit.
  6. Memadukan antara tafakkurdan dzikir. Adanya akumulasi informasi yang sedemikian rupa banyaknya dan tanpa tahu validitasnya akan menyebabkan ruh seseorang pada kondisi dhall (kebingungan). Tafakkur dan Dzikir akan mengantarkan ruh seseorang menjemput hidayah. Hidayah adalah sebuah posisi dimana seseorang yang sebelumnya dalam posisi kebingungan dan kesesatan (dhall), tiba-tiba menemukan jalan yang benar.. Hidayah adalah pemberian yang diberikan oleh Allah kepada seseorang karena kemurahan-Nya, sehingga ia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Tafakkur dan dzikir yang akan melahirkan orang-orang Ulil Albab (Qs.Ali Imron :191).

Tafakkur adalah sebuah metode mempelajari alam semesta dengan diiringi kesadaran spiritual. Pada saat kita memikirkan alam semesta kita akan selalu mencoba menyambungkannya dengan keberadaan Allah ta’ala. Dengan demikian , tafakkur akan menyampaikan seorang pencari ilmu pada Sang Pencipta karena pencariannya akan realitas di balik benda material hanya akan berakhir pada sang Pencipta.

Dzikir adalah sebuah kegiatan dimana seseorang mencurahkan segala konsentrasi dan pemikirannya untuk mengingat, memikirkan, mengagumi dan merasakan keberadaan Allah swt. Seorang ahli dzikir akan merasakan kesan nyata di dalam hatinya , sehingga bekas-bekas keagungan Allah akan terlihat jelas.

Jadi tafakkur akan mempersiapkan ketajaman akal (ruh) seseorang sedangkan dzikir memperuncing cita rasa (dzawq) sehingga ia merasakan pengalaman transrasionalLebih jauh tafakkur dan dzikir ini akan mempersiapkan seseorang guna meraih pengalaman intuisi ( intuitive Experience).

Melalui disiplin inilah seorang pencari ilmu akan mencapai tingkat syuhud dimana ia telah mencapai tingkat konsentrasi tertinggi dan oleh karenanya ia akan mengalami fenomena isra’ yang membawa ruhnya ke tingkat lebih tinggi , mendekati al-Haqq (Kebenaran). Pengetahuan yang dia peroleh bukan lagi bersifat anthroposentris (berpusat pada diri manusia) yang merupakan ciri utama pendidikan Barat, namun sudah teosentris (berpusat kepada Tuhan).

  1. Mengakui validitas pelbagai saluran ilmu pengetahuan, seperti pancaindra, berita yang benar (khabar shadiq), akal sehat dan intuisi yang digabung dalam aqidah. Islam membenarkan adanya kemampuan psikologis, mengenai jiwa manusia dan proses kognitif, dan kemampuan tersebut diletakkan sesuai dengan peranannya yang tepat.

Meskipun meyakini pentingnya pengalaman empiris sebagai saluran ilmu pengetahuan yang absah, Islam tidak berpegang pada pendapat yang saat ini berlaku di Barat, bahwa kebenaran itu semata-mata merupakan hubungan antara proposisi dan fakta-fakta empiris, sebab fakta-fakta itu dapat ditemukan dan menjadi palsu jika diletakkan di tempat yang salah.

Pendidikan harus mendorong siswa-siswanya agar dapat membuktikan klaim kebenaran dengan argumentasi rasional dan empiris. Namun makna dari suatu fakta atau sesuatu hanya akan benar jika koheren dengan “visi Islam terhadap realitas dan kebenaran sebagimana diproyeksikan oleh sistem konseptual al-Qur’an.

Islam juga mengharuskan penggunaan akal sehat secara benar dan tepat, sebab ia merupakan saluran yang valid bagi sampainya ilmu pengetahuan yang pasti. Asumsi-asumsi yang salah (apalagi bila dianggap sebagai sesuatu yang prinsipil) tidak boleh dibiarkan, karena itu akan merusak ilmu pengetahuan dan mengaburkan kebenaran. Misalnya, saat ini berkembang anggapan bahwa seseorang itu bisa disebut kreatif hanya jika berasal dari imajinasi indrawi yang berkaitan denga teknologi, kesenian dan kerajinan tangan. Sementara karya-karya ilmiah yang akurat tidak dianggap kreatif. Teknologi, seperti juga kesenian, adalah produk imajinasi jiwa yang bersifat indrawi (sensitive), bukan imajinasi yang bersifat kognitif. Islam tidak menolak pentingnya pelatihan dan pengembangan imajinasi sensitive, tapi hal ini harus merupakan hasil pengembangan jiwa imajinasi kognitive sebelumnya. Jika tidak, hasil pengembangannya menjadi kasar,liar dan tragis. Diantara ciri-ciri kebudayaan adiluhung pada masa lalu yang abadi dan berbobot adalah adanya integrasi antara jiwa kognitif dan indrawi, yang secara khusus tampak dalam pelbagai karya kegamaan, yang didorong oleh semangat keagamaan.

Kita menyesalkan sistem pendidikan kita, dalam suasana mengejar kemajuan ekonomi dan teknologi, tampak tidak menghiraukan tempat yang benar dan tepat bagi pengembangan kemampuan dua aspek imajinatif murid-murid, yaitu sensitiv dan kognitif. Lingkungan belajar pun mesti ditata dan didesain dengan tepat sehingga dapat mengembangkan dua aspek imajinatif.

Jadi Keseluruhan dan Keselarasan merupakan krakteristik utama metode tauhid ini.

Penggunaan Metafora dan Cerita

Prof. T. Izutsu mengatakan :

“Para filosof Muslim cenderung menggunakan metafora dan perumpamaan dalam metafisika, khususnya dalam penjelasan mengenai hubungan antara Kesatuan dan Keragaman atau realitas absolut dan hal-hal fenomenal yang tampak kontradiktif. Metafora yang sering dipakai dalam metafisika adalah salah satu ciri khas filsafat Islam, atau boleh juga kita katakan filsafat Timur umumnya. Ia tidak dapat dianggap sekadar hiasan puitis. Sebenarnya, fungsi kognitif itu lebih tepat melalui penggunaan metafora.”

Menggunakan Metafora dan Cerita ini adalah sebuah metode yang banyak digunakan di dalam Al-Qur’an. Efektifitas metode ini tidak diragukan lagi, pun di dalam sejarah pendidikan Barat, sebagai bagian integral dari pedagogi. Sebenarnya, fungsi kognitif lebih tepat melalui penggunaan metafora dan cerita ini. Guru-guru di sekolah ini mesti pandai menggunakan alam sekitarnya sebagai metafora untuk menjelaskan dan menanamkan nilai-nilai yang diinginkan.