News & Info

Ya, mereka bergelar Kelas Dua Belas. Jenjang paling tinggi di tingkat Sekolah Menengah Atas. Masa yang pada umumnya menjadi masa peralihan dari remaja menjadi dewasa muda.

Bagi saya, ini masa-masa istimewa.
Kenapa ?
Satu hal saja. Pada masa ini siswa mengalami masa penuh emosi.

Mungkin karena tekanan ujian yang bertubi-tubi, mungkin juga bayang-bayang kelulusan yang tak henti, atau mungkin juga (berdasar pengamatan saya)  lebih banyak karena memikul tanggung jawab sebagai uswah bagi adik-adik kelasnya.

Di suatu sesi pengajaran, saya pernah menghabiskan waktu 30 menit untuk sekedar menerima ‘keluhan’. Sebagian besar intinya: Belum bisa menerima ketika tidak mendapat dispensasi peraturan. “Kelas 10 ada yang melakukan hal yang sama, tapi tidak dihukum. Kenapa kami dihukum?”. “Kami melakukan kesalahan yang sama dengan kelas 11. Kelas 11 hukumannya 15 menit ruku’, kami bisa lebih dari 30 menit! Ini tak adil!!” Dan berbagai curahan hati lain.

Untuk kasus ini, agaknya mereka lupa. Mereka disiapkan untuk menjadi seorang ‘pemimpin’.

Di sesi lain, karena satu dan lain hal, diperlukan adanya perubahan wali kelas pada beberapa kelas 10, 11, dan 12. Tak ada masalah berarti pada kelas 10 dan 11. Tiba di kelas 12, ternyata pergantian wali kelas bisa berakibat perang dingin selama seminggu antara santri dan Kurikulum. Hal yang cukup menguras energi dan emosi untuk klarifikasi.

Tibalah di hari ini. Hari terakhir pembelajaran semester ganjil dimana pekan depan mulai ujian Diniyah dan Akademik. Tengah hari, beberapa orang siswa mulai luruh di antara tonggak tegarnya. Memaksa tersenyum di antara deraian air mata. Entah darimana kata-kata itu lahir, saya berkata: “Hari ini saya sungguh bahagia, melihatmu tumbuh lebih dewasa.”

Namun sesungguhnya, bukankah kita hidup dengan menjalani ‘ujian demi ujian

Saya bukan ahli psikologi, tak bisa mengulasnya secara teori. Namun ijinkan saya menarik benang merah antara ‘ujian’ dan proses ‘pendewasaan’. Bisa jadi mereka tegang menghadapi ujian. Namun sesungguhnya, bukankah kita hidup dengan menjalani ‘ujian demi ujian’?

Ujian sekolah, mungkin cukup menegangkan, namun bukankah ujian di luar sekolah lebih mencemaskan? Di dalam sekolah,mereka hanya perlu menghadapi peratutan dan adik-adik kelasnya. Di luar sekolah, mereka harus menghadapi jutaan orang dengan jutaan peraturan. Di dalam sekolah mereka hanya menghadapi ujian di atas kertas, di luar sekolah, siswa akan menghadapi hiruk pikuknya dunia luar.

Maka dari itu, sebagai pengajar dan sebagai orang tua, dengan wawasan yang sempit ini, semoga kita bisa memandang ujian sebagai suatu moment motivasi untuk siswa melalui proses pendewasaannya. Wallahu alam.

*Di tengah penatnya membawa berita moratorium Ujian Nasional yang ditangguhkan

Baca Juga:

Biografi Ustadzah Dyah Eka

bu-dyahDy Puspita, bernama lengkap Dyah Eka Puspitasari, lahir di Malang, 26 Januari 1979. Seorang Ibu dari dua orang Putra Hiumay Harya Hanggara (12 tahun) dan Maundri Aji Nugraha (9 tahun).

Lulus Jurusan Fisika Universitas Brawijaya pada tahun 2001. Setelah lulus, sempat mengelola Bimbingan Belajar selama 8 tahun mengampu mata pelajaran Matematika dan Fisika, Sebagai Dosen Luar Biasa di Universitas Kanjuruhan selama 4 tahun untuk mata Kuliah Fisika dan Kalkulus, dan kini sehari-hari menjalani aktivitas mengajar di SMA Ar-Rohmah Putri untuk mata pelajaran Fisika.

Kegiatan sehari-hari, selain mengajar dan menjadi penanggung jawab kegiatan Kesiswaan di SMA Ar-Rohmah Putri, waktu luang digunakannya untuk memotret, memasak, dan menulis. Sempat berkontribusi dalam pembuatan buku “Suka Duka Hidup di Australia” yang diterbitkan oleh Forum Lingkar Pena Australia.

Author: Ar-Rohmah Putri

Tinggalkan Balasan