News & Info

Hari itu aku mengumpulkan mereka semua?

Semua??

Bahkan separuh dari jumlah mereka saja tidak ada yang mengindahkan undanganku. Kutarik nafas dalam dalam. Huuuuhhh…sabaarrrr..entah berapa stok sabar yang tersisa dalam kotak sabarku. Sebagian besar telah mereka ambil. Tetapi apakah aku harus menyerah? Iya benar, Aku memang harus menyerah kali ini. Sudah cukup!

Aku menunduk, menundukkan hati, menundukkan pikiran, menundukkan segala yang selama ini menggelayut angkuh di pelupuk anganku.

Ku teringat uluran tangan mereka menyambut kedatanganku setiap hari dengan begitu takdzimnya meraih tanganku, dan menempelkan kedua pipi mereka pada punggung tanganku. Seulas senyum mereka lontarkan kepadaku.

“Assalamualaikum, good morning miss…”

Itulah yang selalu mereka ucapkan menyambut setiap hari hari ku.

Lalu apakah segitu saja aku menyerah. Haruskah aku abaikan harapan mereka, yang mungkin tinggal secercah saja yang tersisa?

Ah hati, segitu rapuhkah benteng pertahananmu?

Lalu kembali kutegapkan ia, ku hapus kata menyerah yang baru saja muncul lalu aku ganti dengan tawakal saja.

Iya. Bismillahitawakkaltu alallah.

Ku tatap mereka satu persatu. Ada yang mengangkat tangan, “Saya panggilkan teman-teman yang lain dulu yaa ustadzah?”

Ustadzah?? Aku terkesiap dalam hati. Allahu robby, sebutan ustadzah begitu indah buatku, bahkan terlalu indah. Aku merasa malu maluu sekali. Malu karena tadi aku hanya melihat kurangnya aku dihargai, aku hanya melihat kasat mata saja “kok cuma sedikit sekali yang menghadiri panggilanku”. Tanpa aku bersyukur mereka ini yang ada dihadapanku adalah bahan mentah. Benar benar mentah. Butuh keahlianku untuk membentuk bahan mentah itu menjadi sesuatu, sesuatu yang seharusnya indah. Apakah jadinya jika ku tinggalkan begitu saja.

Baca Juga:  Awas Jebakan Liburan Santri!

Baca Juga:

Aku tersenyum, “Tidak perlu, nak. Kita ngobrol saja yaa, biar nanti yang lain ustadzah panggil sendiri” seulas senyum mencuat saat aku menyebut diriku ustadzah.

Hanya berberapa menit saja aku menunjukkan kepada mereka apa yang telah diraih selama semester ini.

Angka- angka berwarna merah memenuhi setiap tabel hasil ujian mereka. Sedetik aku merasakan kerisauan yang sepertinya mereka rasakan.

Setelah aku tunjukkan hasil evaluasi pembelajaran itu. Mereka tampak pucat pasi ketakutan dan sepertinya mereka tak berani memandangku yang memang dari tadi hanya bisa berdoa dalam hati. Berulang kali surat Al –Ikhlas aku teriakkan, meminta pertolongan dari Allah azza wa jalla. Agar apa pun yang keluar dari mulutku adalah memang atas tuntunan Nya. Tak banyak yang bisa kukatakan saat itu, ahhh anak anakku ustadzahmu ini terlalu lemah, tak punya perbendaharaan motivasi yang seharusnya diucapkan untuk anak anak didiknya disaat saat seperti ini. Aku menangis tak terdengar. Maafkan ustadzahmu ini, nak.

Lalu aku teringat pesan seorang teman.

“Sholat tahajjudnya ya naak…”

Dang! sepertinya mereka terkesiap.

Mereka mengangkat kepala dan memandangku dengan lekat.

“Bagaimana hafalannya??”

“Matematika. Ekonomi. Geografi dan mata pelajaran yang lainnya. Itu semua hanya cabang ilmu, tetapi engkau semua punya Al-Qur’an. Pegang ia erat erat. Kuasai ia. Al-quran itu ibu nya ilmu, nak. Kalau ibunya saja kau kuasai. Bagaimana mungkin anak anak nya tidak dengan mudah mengikutimu.”

Baca Juga:  Kelas Dua Belas

Aku terdiam. Mereka berkaca-kaca.

“Jaga yaa…”

Itu saja ituuuu saja. Ingat dengan baik anak-anakku.

Lalu aku melangkah pergi meninggalkan sejuta pikiran yang mudah mudahan mereka mengerti apa yang seharusnya mereka perbaiki.

Biografi Ustadzah Putri Suryanti

wanita-muslimah-sedang-berdoa-jangan-berhenti-berdoa Putri Suryanti, 28 tahun. Seorang ibu dari satu orang putra bernama Omar Sajjad A. (14 bulan). Saya lahir dan besar di Pare, Kediri. Sebuah kota kecil yang banyak dikenal orang dengan sebutan “Kampung Bahasa Inggris”. Itulah mengapa saya tertarik untuk memperdalam ilmu Bahasa Inggris disana. Jadi, semisal ada yang bertanya, “Dari Pare? Wah pasti pandai berbahasa Inggris?” saya tak jadi malu menjawabnya ?
Saya melanjutkan studi saya di STKIP PGRI Tulungagung yang bertempat di Trenggalek, sebuah kota yang penuh arti dan menempati tempat yang sangat spesial dalam perjalanan hidup saya. Disana lah pertama kalinya saya tinggal jauh dari bapak ibu. Sambil menyelesaikan kuliah, Saya mengajar di LKP Gazebo English Course selama 7 tahun, lembaga kursus yang menjadi my very strong foundation untuk menjadi seorang guru Bahasa Inggris.
1 Januari 2014 saya bergabung dengan LPI Arrohmah Putri sebagai guru Bahasa Inggris. Sebuah pengalaman yang baru dan sangat luar biasa.

Baca Juga:  Awas Jebakan Liburan Santri!

Author: Ar-Rohmah Putri

Tinggalkan Balasan