News & Info

Muqaddimah

Sudah berapa kali bangsa ini merubah konsep pendidikan, hampir disetiap pergantian kepemimpinan ada perubahan-perubahan konsep pendidikan yang digagas dengan harapan mampu melahirkan generasi masa depan yang lebih baik lagi. Alih-alih melahirkan generasi yang berkualitas lewat konsep pendidikan yang ada, justru dalam tataran empiris terlihat jauh panggang dari api. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan hari ini masih belum bisa dikatakan baik.

Hal ini jika mengacu pada pendapat Fritjof Capra. Ia dengan tegas menyatakan bahwa “ hari ini manusia menemukan diri mereka berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks dan multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan kesehatan dan mata pencaharian, kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi, teknologi, dan politik”. 

Krisis tersebut, menurut Capra, merupakan krisis dalam dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spiritual; suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnyaa dalam catatan sejarah umat manusia. Pendapat Capra ini tidaklah berlebihan, utamanya jika dikomparasikan dengan situasi terakhir pada beberapa negara di dunia, lebih khusus bangsa Indonesia. (Hidayatullah.com)

Semua orang tentu sangat terkejut dengan kondisi bangsa hari ini. Bagaimana tidak, para pemimpin yang seharusnya menjadi panutan, tetapi justru menjadi pesakitan. Ahli hukum justru melanggar hukum. Belum lagi situasi perekonomian global yang cenderung memburuk. Padahal seperti kita ketahui bersama, ahli di berbagai bidang tersebut juga tidak sedikit jumlahnya. Korupsi merajalela, pergaulan bebas membudaya, ketidakjujuran menggurita, dan beragam bentuk tindakan tidak manusiawi lainnya. Ini adalah dampak terkecil ketika manusia menjadikan akalnya sebagai Tuhan dan menegasikan wahyu sebagai petunjuk (Anthropocentrism). Dan, semua fakta, data, maupun peristiwa yang membuat akal sehat dan nurani kita hari ini tercabik-cabik adalah akibat manusia berpaham anthropocentris.

Modernitas tak mampu menjadi penyejuk kemanusiaan. Justru ia merusak hakikat hidup dan kemanusiaan sekaligus. Maka layak kita menggugat, mengapa di dunia modern, yang selalu mengidentikkan diri dengan kekuatan ilmu, rasionalitas, dan efektivitas, justru tidak berkutik melihat pengeroposan nilai-nilai kemanusiaan yang kian memburuk?

Tauhid sebagai Azas Pendidikan

Dari sudut pandang Islam, problematika besar yang melanda kemanusiaan di abad ini disebabkan oleh gerakan pemujaan akal dan pengabaian secara sengaja terhadap mu’jizat akhir zaman yakni Al-Qur’an. Atas situasi tersebut Prof. Dr. M. Naquib Al-Attas menjabarkan secara cermat dan menyeluruh, perlunya penerapan gagasan Islamisasi Ilmu.

Ilmu yang hari ini ada tidak saja telah rusak tetapi juga sangat berperan dalam menggiring manusia pada kesesatan berpikir yang sangat berbahaya. Kesesatan yang berakibat pada hilangnya dasar-dasar kemanusiaan dan menjadikan manusia hidup dalam hukum kebinatangan.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 9

Secara historis-normatif, apa yang terjadi hari ini merupakan satu keberhasilan upaya Iblis, musuh nyata seluruh umat manusia dalam menjauhkan mereka semua dari jalan wahyu.

Sejak pertama kali diciptakan sebagai seorang khalifah, Allah telah memberikan penegasan kepada Adam bahwa Iblis adalah musuh yang nyata baginya dan seluruh keturunan umat manusia. Bahkan dalam al-Qur’an telah jelas sekali mengapa Iblis yang lebih senior daripada Adam, justru terlempar dari surga dan hidup dalam kutukan Allah. Tiada lain dan tiada bukan karena Iblis gagal memanfaatkan akalnya dengan baik.

…..telah jelas sekali mengapa Iblis yang lebih senior daripada Adam, justru terlempar dari surga dan hidup dalam kutukan Allah. Tiada lain dan tiada bukan karena Iblis gagal memanfaatkan akalnya dengan baik.

Akal yang diberikan Allah kepada Iblis ia gunakan untuk mendebat perintah Allah. Dengan argumentasi rasionalitasnya, Iblis berkeyakinan protesnya kepada Allah untuk tidak hormat kepada Adam akan dibenarkan. Ternyata tidak, Allah langsung murka kepada Iblis dan mengutuknya hingga akhir zaman, kemudian akan disiksa selama-lamanya di dalam neraka.

Paparan Allah dalam al-Qur’an itu mengindikasikan satu kehendak kuat bahwa semestinya manusia benar-benar tunduk, patuh, dan taat kepada Allah semata, seperti apapun akal memandang perintah tersebut. Suka tidak suka, perintah Allah harus dilaksanakan dan segala larangan harus ditinggalkan.

Termasuk dalam dunia pendidikan. Tujuan pendidikan hendaknya tidak direduksi hanya pada aspek material semata. Pendidikan seharusnya justru mengintegrasikan kekuatan besar manusia, yaitu akal dan jiwa. Akal membutuhkan informasi, dan jiwa sangat membutuhkan petunjuk (wahyu). Oleh karena itu kita perlu satu konsep pendidikan yang berbasis tauhid.

 

Islam Sebagai Way Of Life

Islam (dari kata aslama yang berarti ‘ia menundukkan dirinya’ atau ‘ia masuk ke dalam kedamaian’) adalah keadaan yang sehat atau keadaan yang alamiah seperti ketika Tuhan pertama kali menciptakan manusia dan alam semesta. Islam adalah agama alamiah bagi setiap sesuatu yang berada di alam semesta.

Seluruh alam semesta adalah manifestasi dari kehendak Allah. Alam semesta diciptakan sebagai sebuah lingkungan yang perlu bagi manusia sehingga ia dapat menyempurnakan amanah Allah yang telah disanggupinya.

Seorang Muslim harus senantiasa berusaha untuk menjadi muslim yang lebih baik dan lebih sempurna dengan menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak Allah.

Seorang Muslim harus senantiasa berusaha untuk menjadi muslim yang lebih baik dan lebih sempurna dengan menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak Allah. Atau dengan kata lain, seorang Muslim mesti mengikuti manhaj hidup yang dikehendaki Allah SWT seperti yang tercermin dalam Al-Fatihah: 6-7. Tercapainya Islam di dalam masyarakat manusia – di mana manusia hidup dengan kedamaian di dalam batinnya dan dengan kedamaian di dalam hubungan-hubungannya dengan segala sesuatu di luar dirinya – tergantung apakah individu-individu dan masyarakat mematuhi kehendak Allah sesuai dengan sifat-sifat mereka, kesanggupan-kesanggupan mereka, dan realitas-realitas material dalam lingkungan mereka.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 8

Di dalam terminologi Al-Qur’an, hukum atau kehendak Allah ditunjukkan dengan ayat-ayat-Nya. Perkataan ayat ini berarti “petunjuk” di dalam alam dan sejarah, atau juga “kata-kata” di dalam kitab suci yang diwahyukan-Nya.Keseluruhan sistem ini adalah Islam, cara, jalan atau pesan Allah (sunnat, fitrah, atau khalq Allah). Manusia-manusia yang tetap bertahan dalam cara, jalan, dan pesan Allah ini adalah “penolong-penolong Allah “ (Anshar Allah), “sahabat-sahabat Allah” (awliya Allah), dan “golongan Allah” (hizb Allah). Manusia-manusia yang seperti ini adalah manusia-manusia yang bekerjasama dengan Allah. Manusia-manusia yang seperti ini yang pantas menerima amanah Allah sebagai khalifah-Nya yang sejati atau sebagai pemimpin-pemimpin di atas dunia secara individual, bangsa atau pun peradaban.

Dalam pandangan seorang Muslim, peradaban yang tinggi adalah peradaban yang dapat menciptakan situasi (politik, sosial, ekonomi,budaya) dan materi yang kondusif untuk mengarahkan manusia pada pengabdian kepada Allah semata dan setia pada ajaran-Nya dalam berbagai aktivitas kehidupannya. Jadi ukuran sebuah peradaban yang baik adalah sejauh mana peradaban tersebut selaras dengan prinsip penghambaan kepada Allah. Betapa pun majunya sebuah peradaban dalam berbagai bidang pengetahuan dan disiplin ilmu, kehebatannya dalam teknologi, memberikan kesejahteraan kehidupan yang menyenangkan bagi manusia, peradaban tersebut tetap dinilai terbelakang kalau ternyata gagal menciptakan situasi yang kondusif bagi manusia untuk bisa mengabdi kepada Allah dan leluasa menjalankan syariat-syariat-Nya.

Jika orang lain mengatakan bahwa puncak peradaban Islam adalah pada abad pertengahan, maka sesungguhnya dalam pandangan seorang Muslim, puncak peradaban itu justru terjadi pada periode permulaan Islam, yaitu pada periode Peradaban Madinah. Periode itu adalah periode yang paling kondusif bagi kaum Muslimin untuk mengabdi dan mengesakan Allah. Naquib Al-Attas menjelaskan bahwa dengan menekankan pada hubungan yang sangat erat antara konsep din dan madinah, umat Islam pertama dengan sadar telah mengubah nama kota Yastrib dengan nama Madinah al-Nabi setelah peristiwa hijrah. Al-Madinah telah dinamakan dan disebut demikian, sebab di sana telah terdapat agama yang benar bagi kemanusiaan. Di sana, orang beriman telah menyerahkan dirinya pada kekuasaan Nabi Muhammaad saw. Kota ini, bagi masyarakat Muslim menjadi lambang struktur sosial-politik Islam; dan bagi individu-individu yang beriman, secara analogis menjadi simbul tubuh dan wujud fisik orang-orang beriman, ketika jiwa rasionalnya, dalam mencontoh suri teladan Nabi, melaksanakan kekuasaan dan pemerintahan yang adil. Rasulullah saw sendiri mengatakan dalam salah satu haditsnya: Sebaik-baik kurun generasi adalah kurun generasiku, kemudian kurun generasi berikutnya, kemudian kurun generasi berikutnya lagi.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 2

Jelaslah kini, bahwa ayat ini telah menunjukkan dengan jelas pandangan Islam tentang tujuan hidup manusia – termasuk pendidikan dan peradabannya -, ukuran kesuksesan hidupnya, dan juga ukuran tinggi-rendah atau baik-buruknya peradaban yang dibangunnya, yaitu sampai seberapa jauh manusia itu semakin tunduk dan patuh (istislam) kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupannya.

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam dengan sempurna (kaffah)

(QS. 2: 208).

 

bersambung….

Biografi Ustadz Rully Cahyo

ust-rullyLahir di Lamongan pada 22 Desember 1976, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak tahun 1997 telah bergabung dengan LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang.

Saat ini menjabat sebagai Kepala SMP – SMA Ar-Rohmah Putri “Boarding School” Malang dan sedang menyelesaikan Program S3 Manajemen Pendidikan Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Bersama Konsorsium Pendidikan Islam (KPI) Surabaya aktif dalam beberapa program kegiatan pelatihan dan pengembangan lembaga pendidikan di Indonesia.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 8

Author: Ar-Rohmah Putri

Tinggalkan Balasan