News & Info

AL-QALAM 1-7: BENTURAN PERADABAN

Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat. Siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Surah ini memberikan gambaran yang jelas tentang problem terpenting yang dihadapi umat manusia dari dulu hingga saat ini, yaitu masalah ilmu pengetahuan. Hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuan itu tidak bebas nilai atau bersifat netral. Ilmu pengetahuan selalu dipengaruhi oleh pandangan-pandangan keagamaan, kebudayaan, dan filsafat yang mencerminkan kesadaran dan pengalaman manusia yang membawanya. Setiap kebudayaan memiliki pemahaman yang berbeda-beda mengenai ilmu – meskipun diantaranya terdapat beberapa persamaan. Tampak jelas di surah ini bahwa betapa Allah SWT telah berusaha untuk meyakinkan Muhammad saw bahwa apa yang ia bawa atau apa yang ia terima dari Allah SWT adalah lebih baik dan benar daripada apa yang dibawa oleh kaum Quraisy. Allah menegaskan bahwa apa yang “ditulis” oleh ajaran jahiliyyah orang Quraisy hanya akan menyesatkan, sedang apa yang “ditulis” oleh ajaran Islam yang di bawah oleh Nabi saw akan menunjukkan kepada jalan yang benar. Terasa benar ada benturan ilmu pengetahuan (clash of knowledge) di sini. Dan karena ilmu pengetahuan adalah produk sekaligus pembentuk peradaban, maka pasti juga akan terjadi benturan peradaban (clash of civilization).

Pada zaman ini, disadari atau tidak, ilmu pengetahuan Barat telah merasuki seluruh aspek kehidupan umat Islam, termasuk dalam dunia pendidikan. Perlahan tapi pasti, umat Islam mulai pudar kebanggaan dan rasa percaya dirinya terhadap supremasi peradaban Islam. Sehingga yang kemudian terjadi adalah, demi bisa ’sejajar’ dengan Barat, upaya untuk memperbaiki keadaan umat ditempuh dengan cara-cara yang salah, yaitu mem-Baratkan Islam melalui sistem pendidikan atau bahkan menghapus Islam sama sekali. Tampaknya benar ketika seorang pakar sejarah berkata, ”Bangsa yang terjajah itu cenderung mengikuti (peradaban) penjajahnya.” Padahal antara Islam dan kebudayaan Barat terbentang pemahaman yang berbeda mengenai ilmu, dan perbedaan itu begitu mendalam sehingga tidak bisa dipertemukan. Jika terus dipaksakan, pasti akan menimbulkan kerancuan, komplikasi, dan ketidakadilan yang menghancurkan. Karena kerancuan ilmu (corruption of knowledge) dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan inilah yang menyebabkan umat Islam menghadapi pelbagai masalah di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Umat Islam, oleh karena itu, perlu meng-Islamkan ilmu pengetahuan masa kini dengan (pertama dan terutama) meng-Islamkan simbol-simbol linguistik mengenai realitas dan kebenaran.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid - Bagian 1

Bertolak dari masalah di atas, upaya mendefinisikan dengan jelas ’apakah ilmu itu’ adalah sesuatu yang sangat penting, sebab Islam adalah agama yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Aqidah yang merupakan dasar dari agama juga diawali dengan pernyataan yang jelas mengenai ilmu pengetahuan. Sehingga, tanpa upaya ini hanya akan menyebabkan kehancuran fondasi dasar yang tidak hanya menjadi akar bagi agama, tetapi juga bagi semua jenis sains.

Al-Qur’an mengatakan (dalam surah al-Alaq dan lainnya) bahwa ilmu itu datangnya dari Allah.

Al-Qur’an mengatakan (dalam surah al-Alaq dan lainnya) bahwa ilmu itu datangnya dari Allah. Dengan premis bahwa ilmu itu datang dari Allah, maka ilmu didefiniskan sbb:

Pertama, datangnya (hushul) makna sesuatu atau objek ilmu ke dalam jiwa pencari ilmu. Makna adalah pengenalan tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam sebuah sistem, yang berlangsung ketika hubungan sesuatu dengan yang lainnya dalam sistem itu menjadi jelas dan dapat dipahami. Kedua, sebagai sesuatu yang diterima oleh jiwa yang aktif dan kreatif, ilmu bisa diartikan sebagai datangnya jiwa (wushul) pada makna sesuatu atau objek ilmu.

Dari definisi di atas tampak bahwa proses terjadinya ilmu adalah suatu proses yang di satu pihak memerlukan mental yang aktif dan persiapan spiritual di pihak pencari ilmu, dan di pihak lain keridlaan serta kasih sayang Allah sebagai zat yang memberikan ilmu. Dengan demikian, pencapaian ilmu dan pemikiran adalah sebuah proses spiritual. Metode penyatuan antara “usaha” intelektual dan spiritual dari pencari ilmu dan “pemberian” dari Allah Swt yang Maha Pengasih dan Penyayang inilah yang disebut dengan “Metode Tauhid”. Metode ini merupakan ciri-ciri tradisi intelektual Islam.

Metode penyatuan antara “usaha” intelektual dan spiritual dari pencari ilmu dan “pemberian” dari Allah Swt yang Maha Pengasih dan Penyayang inilah yang disebut dengan “Metode Tauhid”

Usaha atau disiplin intelektual dan spiritual pencari ilmu dalam rangkah untuk mendapat “pemberian” dari Allah Swt tersebut di dalam khazanah keilmuan Islam disebut dengan adab. Definisi adab adalah:

Pengenalan dan Pengakuan terhadap realitas bahwasannya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari hierarki yang sesuai dengan kategori-kategori dan tingkatan-tingkatannya, dan bahwa seseorang itu memiliki tempatnya masing-masing dalam kaitannya dengan realitas, kapasitas, potensi fisik, intelektual dan spiritualnya.

Pengenalan: mengetahui kembali (recognize) Perjanjian Pertama (Primordial Covenant) antara manusia dan Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa semua materi sudah berada pada tempatnya masing-masing dalam pelbagai hierarki wujud. Tetapi disebabkan oleh kebodohan dan kesombongannya manusia kemudian “mengubah tempat-tempat tersebut sehingga terjadilah ketidakadilan.”

Pengakuan: melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang telah dikenal di atas. Tanpa ini pendidikan menjadi sesuatu yang tak lebih dari sekedar proses belajar (ta’allum).

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 7

Dikaitkan dengan tujuan pencarian dan penyebaran ilmu, yaitu untuk ber-ma’rifat kepada Allah SWT., maka pendidikan adalah sebuah proses ta’dib (penanaman adab), yaitu:

Pengenalan dan pengakuan, yang diajarkan secara progresif kepada manusia, mengenai tempat yang sebenarnya dari segala sesuatu dalam tatanan ciptaan yang mengarah pada pengenalan dan pengakuan tempat yang patut bagi Allah Swt. dalam tatanan being dan eksistensi.

Definisi di atas jelas akan mempengaruhi ‘cara mencari ilmu’ dalam dunia pendidikan. Di dalam pendidikan Islam, ada hubungan yang tidak terpisahkan antara adab dan ilmu. Sedangkan Barat, karena ketidakpercayaanya terhadap ‘keyakinan yang didasarkan wahyu’ sebagai fondasi ilmu pengetahuan, maka mereka tidak mengenal konsep adab dan melahirkan konsep ‘dekonstruktivisme’. Dekonstruksivisme adalah konsep ‘bongkar-bangun’ yang tidak berkesudahan. Dekonstruksivisme ini terbukti telah menyeret manusia ke dalam suatu ‘tragedi’ pencarian panjang tentang kebenaran dan dasar-dasar eksistensi manusia yang tidak pernah terjawab dan berkesudahan. Persis orang kehausan yang meminum air garam untuk menghilangkan rasa hausnya.

Yang menyedihkan, masalah mendasar dalam pendidikan Islam saat ini justru adalah hilangnya nilai-nilai adab dalam arti luas. Adab berkaitan dengan ilmu, sebab ilmu tidak dapat diajarkan atau ditularkan kepada anak didik kecuali ia memiliki adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan dalam pelbagai bidang. Konsep pendidikan Islam yang telah dirasuki pandangan hidup Barat yang berlandaskan nilai-nilai dualisme, sekularisme, humanisme, dan sofisme menjadikan nilai-nilai adab semakin kabur dan semakin jauh dari nilai-nilai hikmah ilahiyah. Kekaburan makna adab atau kehancuran adab tersebut mengakibatkan kezaliman, kebodohan, dan kegilaan. Kezaliman adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, kebodohan adalah melakukan cara yang salah untuk mencapai tujuan tertentu, dan kegilaan adalah perjuangan yang berdasarkan tujuan dan maksud yang salah. Kecenderungan untuk mengadopsi ide-ide skeptisisme, relativisme, sofisme dari Barat ke dalam Islam, misalnya, pada hakikatnya adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan hal ini menunjukkan kehancuran adab. Konsep-konsep asing itu, bagaimana pun mapannya, dibangun dari akar kebudayaan dan pandangan hidup yang berbeda atau bahkan bertentangan secara diametral dengan Islam. Mengadopsi suatu konsep tanpa proses transformasi yang utamanya melibatkan pengetahuan dan kesadaran akan pandangan hidup, tidak akan memajukan peradaban yang bersangkutan tetapi justru menghancurkan.

Jika adab adalah prasyarat bagi penularan ilmu pengetahuan, sebaliknya, rusaknya ilmu pengetahuan dapat dilacak dari rusaknya adab. Artinya, kerancuan dalam berpikir, korupsi ilmu pengetahuan, pelacuran ilmiah, adalah akibat-akibat yang dihasilkan oleh rusaknya adab. Kerusakan ini akan menghambat masyarakat dalam melahirkan pemimpin yang berkualitas di segala bidang dan lapisan, atau sebaliknya memaksa masyarakat melahirkan pemimpin gadungan yang cenderung menghancurkan masyarakat daripada membangunnya. Semua itu berasal dari kualitas lembaga pendidikan yang telah kehilangan konsep adab.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 5

Untuk memperbaiki keadaan ini, maka pendidikan harus dilandaskan pada konsep pengembangan individu yang mengarah pada pembentukan manusia beradab yang dapat menghadapi segala problematika kehidupan tanpa kehilangan identitas diri. Dan lembaga pendidikan Islam sepatutnya berbeda dari pendidikan Barat, baik bentuk, konsep, struktur, maupun epistemologinya. Untuk itu diperlukan pembaharuan di dalam pendidikan Islam. Dalam tradisi Islam (Sunnah), setiap usaha pembaharuan pemahaman dan penafsiran Islam selalu merujuk kepada Kebenaran yang Mutlak yang termaktub dalam Al-Qur’an. Karena itu pembaharuan ini harus didasarkan pada metafisika dan epistemologi Islam yang membahas tentang Kebenaran yang Mutlak.

Harus selalu diingat bahwa Al-Qur’an, sebagaimana halnya alam semesta ini, adalah sudah sempurna sejak awal mula diciptakan Allah. Namun, kemudian manusialah yang perlahan-lahan meninggalkannya atau mendistorsi ajaran-ajarannya sehingga menimbulkan berbagai macam kerusakan di seluruh alam semesta. Karena itu Islah, tajdid atau Islamisasi selalu berorientasi pada pemurnian (refinement) yang bersifat kembali pada ajaran asal. Kembali kepada ajaran asal bermakna bahwa konsep pertama atau konsep asalnya dipahami dan ditafsirkan sehingga menjadi lebih jelas bagi masyarakat pada masanya dan penjelasan ini tidak bertentangan dengan aslinya.

Biografi Ustadz Rully Cahyo

ust-rullyLahir di Lamongan pada 22 Desember 1976, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak tahun 1997 telah bergabung dengan LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang.

Saat ini menjabat sebagai Kepala SMP – SMA Ar-Rohmah Putri “Boarding School” Malang dan sedang menyelesaikan Program S3 Manajemen Pendidikan Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Bersama Konsorsium Pendidikan Islam (KPI) Surabaya aktif dalam beberapa program kegiatan pelatihan dan pengembangan lembaga pendidikan di Indonesia.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 6

Author: Ar-Rohmah Putri

Tinggalkan Balasan