News & Info

AL-MUZZAMIL: 1-10: PEMBENTUKAN AGENT OF CHANGE

Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (yaitu) Seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Maka ambillah Dia sebagai Pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.

Surah al-Muzzammil di atas diturunkan dalam konteks sejarah dimana kaum muslim saat itu masih minoritas, lemah dan ditindas dengan kejam.Alih-alih diperintahkan untuk membalas kezaliman yang luar biasa dari musuh-musuhnya, justru kaum Muslimin diperintahkan untuk bersabar, memaafkan dan tidak membalas, demi kejayaan masa depan Islam. Bisa dibayangkan, betapa beratnya hal ini bagi para sahabat yang sebagian besar adalah anak-anak muda yang galibnya mudah bergolak emosinya. Menghadapi hal ini Rasulullah saw mendidik secara langsung sahabat-sahabatnya dengan membimbing mereka memperkuat tali hubungan dengan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya lewat ibadah “bangun di malam hari.” Menguji mereka dengan perintah meninggalkan tempat tidur, melawan rasa kantuk, dan mengatasi kebiasaan-kebiasaan yang lain adalah dalam rangka untuk menanamkan sikap disiplin dan membebaskan mereka supaya jangan mau tunduk kepada kesenangan-kesenangan nafsu. Hal itu sebagai latihan untuk menjadi agent of change dan menjadi pemimpin di lingkungan mereka yang secara mutlak memang memerlukan semangat dan persiapan mental yang tinggi.

Bangun tengah malam dan membaca Al-Qur’an secara tartil itu merupakan langkah yang tepat untuk khusyuk dan lebih berkesan. Dengan demikian terwujudlah situasi yang kondusif untuk menerima “perkataan yang berat (qaulan tsaqilan)”, yaitu wahyu/ilmu dari Al-Qur’an. Terbukti pengaruh persiapan mental yang sempurna dan maksimal ini telah membuat para sahabat Nabi mampu memikul beban jihad dan membentuk negara yang merdeka di Madinah. Dengan tulus ikhlas mereka rela berkorban demi Islam supaya ajaran-ajarannya bisa diterapkan di tengah-tengah realitas kehidupan dan disebarkan ke segenap penjuru dunia.Allah sendiri telah menjanjikan bahwa

Telah Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami” asalkan “mereka sabar dan meyakini ayat-ayat Kami. (Qs. As-Sajdah/32: 24).

Orang-orang seperti itulah yang akan sanggup mengemban risalah-Nya, menyebarkan dakwah-Nya, dan menjadi saksi atas manusia. Merekalah yang akan mengemban tugas sangat besar membimbing umat manusia ke jalan yang benar, menyelamatkan mereka dari penyimpangan-penyimpangan yang membahayakan, dan mengarahkan mereka untuk mengesakan serta mematuhi Allah. Itu semua jelas tugas besar yang hanya sanggup dilaksanakan oleh orang-orang yang

lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka. (Qs. As-Sajdah/32: 16).

Orang-orang seperti ini yang akan menjadi kepercayaan Allah dan menjadi saksi-Nya di bumi ini. Dalam sebuah hadis Qudsi Allah berfirman:

Tiada cara yang paling baik bagi hamba-Ku untuk mendekat kepada-Ku melainkan dengan melakukan amal-amal yang wajib (fardlu). Dan sungguh apabila hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan melakukan amalan-amalan tambahan (nawafil), maka aku akan mencintainya. Jika aku telah mencintainya, maka jadilah Aku pendengarannya, penglihatannya, lisan, tangan, kaki, dan hatinya. Sehingga, ia akan mendengar dengan pendengarn-Ku, melihat dengan penglihatan-Ku, berbicara dengan lisan-Ku, dan bertindak dengan tindakan-Ku.

Orang yang telah sampai pada derajat ini, beban apa pun yang menghalanginya saat menempuh jalan kebenaran akan terasa ringan baginya. Sebab, ia telah dekat dengan Allah SWT lantaran diberi rahmat dan kasih sayang, serta ma’rifat dan ketenangan jiwa oleh-Nya. Bahkan ia diberi kemampuan oleh Allah untuk apa-apa yang tidak diketahui oleh orang lain. Kalau sudah demikian, maka setiap kata-kata yang dikeluarkannya akan mengandung hikmah, dan ia pun menjadi disegani oleh manusia. Itulah hamba yang benar-benar mempergunakan pikirannya, dan hawa nafsunya menjadi teredam oleh genggaman Allah SWT, sehingga hatinya menjadi khazanah (perbendaharaan)-Nya.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 6

Tujuan pendidikan menurut Islam bukanlah untuk menghasilkan warga negara dan pekerja yang baik, sebaliknya adalah untuk menciptakan manusia yang baik.

Sesungguhnya untuk tujuan inilah mestinya suatu institusi pendidikan Islam dibuat dan ke arah itulah mestinya proses pendidikan diorientasikan, yaitu ta’dib (penanaman adab) untuk menciptakan para agent of change demi kebangkitan peradaban Islam.

Tujuan pendidikan menurut Islam bukanlah untuk menghasilkan warga negara dan pekerja yang baik, sebaliknya adalah untuk menciptakan manusia yang baik. Tujuan mencari ilmu adalah untuk menanamkan kebaikan ataupun keadilan dalam diri manusia sebagai seorang manusia dan individu, bukan hanya sebagai seorang warga negara ataupun anggota masyarakat. Yang perlu ditekankan adalah nilai manusia sebagai manusia sejati, bukan berdasarkan konteks pragmatis dan kegunaannya bagi negara, masyarakat dan dunia (utilitarian). Warga Negara yang baik dalam sebuah negara yang sekuler tidak sama dengan manusia yang baik. Sebaliknya, manusia yang baik pasti seorang warga negara yang baik.

Penekanan terhadap individu mengimplikasikan pengetahuan mengenai akal, jiwa, nilai, tujuan dan maksud yang sebenarnya dari kehidupan ini. Sebab akal, nilai, dan jiwa adalah unsur-unsur yang inheren setiap individu. Sedangkan penekanan terhadap masyarakat dan negara membuka pintu menuju sekularisme, termasuk di dalamnya ideologi dan pendidikan sekuler. Gagasan bahwa tujuan pendidikan itu diarahkan untuk menciptakan warga negara yang sempurna adalah konsep yang dominan dalam filsafat Barat yang didasarkan pada pandangan humanism-materialisme.

Perhatian penuh terhadap individu merupakan sesuatu yang sangat penting, sebab tujuan tertinggi dan pemberhentian akhir etika dalam perspektif Islam adalah untuk individu itu sendiri. Karena posisinya sebagai agent of change atau agen moral, manusialah yang kelak akan diberi pahala atau azab pada Hari Perhitungan.

Orang yang terdidik atau terpelajar adalah orang yang baik. Orang yang baik adalah orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan Yang Haq; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 8

Jadi, orang yang baik adalah orang yang beradab.

Jadi, orang yang baik adalah orang yang beradab. Pendidikan adalah penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang – ini disebut ta’dib. Struktur konsep ta’dib ini mencakup unsur-unsur ilmu (‘ilm), instruksi (ta’lim), dan pembinaan yang baik (tarbiyah). Jika tarbiyah hanya berkaitan dengan pengembangan fisikal dan emosional manusia dan ta’lim secara umum hanya terbatas pada pengajaran dan pendidikan kognitif, maka perkataan adab telah mencakup makna keduanya. Pemakaian kata adab pada abad ke-1 H memiliki makna-makna intelektual, etika, dan social. Kemudian, perkataan ini menjadi istilah yang berarti sejumlah ilmu pengetahuan yang menjadikan seseorang itu manusia berperadaban dan ‘tercerahkan’ (urbane). Ibnu Abbas menafsirkan Qs. al-Tahrim (66):6: “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,” dengan menyatakan “ajarilah mereka (faqqihuhum) dan didik mereka dengan adab (addibuhum).” Ibnu Mubarak berkata, ”Kita lebih memerlukan adab daripada ilmu yang banyak.”

Pada awalnya perkataan adab berarti undangan ke sebuah jamuan makan. Lalu kata ini di-Islamisasikan dengan menambahkan elemen-elemen spiritual dan intelektual pada dataran semantiknya. Dalam konteksnya yang baru ini, Al-Qur’an dianggap sebagai undangan Tuhan kepada manusia untuk menghadiri jamuan keruhanian (ilmu pengetahuan) di atas muka bumi (ma’dabah Allah fi al-ardh). Karena jamuan itu berasal dari Yang Maha Agung dan Pemurah, maka untuk menikmatinya, diperlukan cara-cara, sikap, dan etiket yang suci atau perilaku yang sesuai dengan sifat jamuan dari Pemilik jamuan yang mulia tersebut. Pendekatan terhadap ilmu (wahyu) dengan cara yang mulia itulah yang disebut dengan adab. Pengertian adab melibatkan hal-hal sbb:

  1. Suatu tindakan mendisiplinkan jiwa dan pikiran
  2. Pencarian kualitas dan sifat-sifat jiwa yang baik
  3. Perilaku yang benar dan sesuai yang berlawanan dengan perilaku salah dan buruk
  4. Ilmu yang dapat menyelamatkan manusia dari kesalahan dalam mengambil keputusan dan sesuatu yang tidak terpuji
  5. Pengenalan dan pengakuan kedudukan (sesuatu) secara benar dan tepat
  6. Sebuah metode mengetahui yang mengaktualisasikan kedudukan sesuatu secara benar dan tepat
  7. Realisasi keadilan sebagaimana direfleksikan oleh hikmah.

Secara esensial, ketiadaan adab akan memicu munculnya segala bentuk ketersesatan dan ektremisme. Berlakunya ketidakadilan disebabkan ketiadaan adab dan kebingungan dalam bidang ilmu pengetahuan tentu akan merusak tatanan moral dan pendidikan suatu masyarakat. Adab menanamkan rasa keteraturan dan disiplin dalam pikiran yang secara alami tercermin dalam fenomena yang berkaitan dengan pribadi,social, dan kebudayaan.

Pendidikan yang membentuk manusia yang baik secara definitif pasti lebih bermanfaat dibandingkan pendidikan yang hanya untuk menciptakan warga negara yang terlatih dan berguna. Manusia yang beradab akan dapat menghadapi dunia yang plural dan berkembang pesat ini dengan sukses tanpa harus kehilangan identitasnya. Berhadapan dengan pelbagai tingkatan realitas, dengan cara yang tepat dan benar, akan mendorongnya meraih kebahagiaan spiritual dan permanen, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini berimplikasi bahwa perencanaan, isi, dan metode pendidikan harus mencerminkan penekanan pada pengamalan adab yang benar secara keras dan konsisiten dalam pelbagai tingkat realitas.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 9

Al-Qur’an menegaskan bahwa contoh ideal bagi orang yang beradab adalah Nabi Muhammad saw. yang merupakan Manusia Sempurna atau Manusia Universal (al-insan al-kulliyy). Beliau adalah orang yang mendapat pendidikan terbaik dari Allah Swt., sehingga kedudukannya menjadi teladan yang paling baik (al-akram). Misi beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia (innama bu’itstu li-utammima husna al-akhlaq). Dari sini, dapat dipastikan bahwa aktivitas Nabi SAW., berupa tilawah, tazkiyah, dan ta’limah Al-Qur’an dan hikmah merupakan manifestasi langsung dari peranan ta’dib. Oleh karena itu pengaturan administrasi pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam sistem pendidikan Islam haruslah merefleksikan Manusia Sempurna.

Karena itu kedekatan kepada Allah lewat ibadah fardlu dan nawafil (tambahan) adalah kebutuhan mutlak bagi seorang Muslim, seperti halnya mutlaknya air bagi ikan.

Namun, perlu dicatat bahwa kemampuan untuk meraih insan kamil ini tidak akan terwujud melainkan atas kehendak Allah SWT semata. Sebab, sekiranya, Ia tidak menginginkan seseorang mendapatkan ketinggian derajat tersebut, tentulah Ia tidak mendatangkan keinginan untuk mendapatkannya pada hati orang tersebut. Ketinggian derajat ini mutlak karunia dan rahmat Allah SWT terhadap hamba-Nya. Karena itu kedekatan kepada Allah lewat ibadah fardlu dan nawafil (tambahan) adalah kebutuhan mutlak bagi seorang Muslim, seperti halnya mutlaknya air bagi ikan.

Biografi Ustadz Rully Cahyo

ust-rullyLahir di Lamongan pada 22 Desember 1976, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak tahun 1997 telah bergabung dengan LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang.

Saat ini menjabat sebagai Kepala SMP – SMA Ar-Rohmah Putri “Boarding School” Malang dan sedang menyelesaikan Program S3 Manajemen Pendidikan Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Bersama Konsorsium Pendidikan Islam (KPI) Surabaya aktif dalam beberapa program kegiatan pelatihan dan pengembangan lembaga pendidikan di Indonesia.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 3

Author: Ar-Rohmah Putri

Tinggalkan Balasan