News & Info

AL-MUDDATSTSIR 1-7: TANGGUNG JAWAB KENABIAN

Hai orang yang berkemul (berselimut).Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Filsafat pendidikan Islam jelas menekankan pengembangan individu, tetapi hal ini tidak dapat dipisahkan secara sosial dalam hal cara dan konteks pelaksanaannya. Pemahaman ini berakar pada Ikatan Primordial yang telah terjadi antara seluruh manusia yang diciptakan Tuhan sebagaimana dinyatakan dalam Qs. Al-A’raf (7): 172. Manusia pertama kali menyatakan dirinya dengan kata-kata jamak, yaitu bala syahidna! Ya, kami menyaksikan! Maksudnya, setiap ruh menyatakan dirinya secara individual dalam hubungannya dengan yang lain dan Tuhan mereka.

Seorang individu hanya memiliki makna ketika secara simultan ia menyadari individualitasnya yang unik dan kebersamaan dirinya dengan manusia yang lain yang dekat dengannya dan di sekitarnya. Individu yang ‘mengasingkan dirinya atau terisolasi’ tidak memiliki arti apa-apa, sebab dalam keadaan itu ia tidak lagi menjadi individu, ia adalah segala sesuatu. Jadi, individu itu baru memilki makna apabila berada di tengah-tengah masyarakat. Dari sini jelas bahwa, manusia beradab (insan adabi), adalah individu yang sadar sepenuhnya akan individualitasnya dan hubungannya yang tepat dengan diri, Tuhan, masyarakat, dan alam yang tampak maupun gaib. Itulah sebabnya, dalam pandangan Islam, manusia yang baik atau individu yang baik secara alami harus menjadi hamba yang baik bagi Tuhannya, ayah yang baik bagi anak-anaknya, suami yang baik bagi istrinya, anak yang baik bagi orang tuanya, tetangga yang baik, dan warga negara yang baik bagi negaranya. Dengan kata lain:

ia harus mengetahui kedudukan dirinya di tengah-tengah pelbagai tingkatan manusia, yang harus dipahami sebagai sesuatu yang telah disusun secara hierarkis dan logis ke dalam tingkatan-tingkatan (derajat kebaikan) yang berdasarkan kriteria al-Qur’an mengenai kecerdasan, keilmuan, dan kebaikan (ihsan), dan harus berbuat selaras dengan ilmu pengetahuan itu secara positif, terpercaya, dan terpuji.

Seorang muslim yang memahami pandangan hidup Al-Qur’an tentu tidak akan menegasikan atau mengabaikan kewajiban sosialnya. Ia mengetahui bahwa meskipun di akhirat nanti bersifat individual, hukuman Tuhan dalam sejarahnya juga bersifat sosial. Ia juga akan terkena hukuman jika tidak melakukan tugas dan kewajiban yang diperintahkan. Dalam hal ini, Rasulullah saw dalam salah satu hadisnya mengatakan:

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 2

Annu’man bin Basyir ra. berkata: Bersabda Nabi SAW:

Perumpamaan orang yang memegang teguh hukum-hukum Allah dengan orang yang mengabaikannya adalah bagaikan suatu kaum yang berbagi tempat dalam kapal. Ada sebagian di atas dan sebagian di bawah. Yang berada di bagian bawah, jika memerlukan air harus naik ke atas, yang sudah tentu melewati orang-orang yang berada pada bagian yang di atas. Maka mereka berkata,” Lebih baik kami melubangi di bagian kami, supaya tidak mengganggu orang-orang di atas”. Jika hal tersebut dibiarkan, pasti binasa semua isi kapal tersebut. Tetapi kalau pikiran itu dapat dicegah, selamatlah seluruh isi kapal tersebut. (HR. Bukhari)

Hadis ini menjelaskan, betapa seorang muslim yang ‘alim harus memiliki kepekaan dan tanggung jawab terhadap kondisi masyarakatnya. Ia tidak ridla jika hukum-hukum Allah tidak tegak di muka bumi ini. Karena itu spirit amar ma’ruf nahi munkar adalah menjadi sesuatu yang inheren dalam dirinya. Ikhlas, yaitu hidup hanya untuk mengagungkan nama Tuhan, selalu mensucikan diri dan menjauhi dosa, berbuat hanya untuk mencari ridla Allah, bukan dengan harapan untuk mendapatkan imbalan yang lebih banyak, dan bersabar dalam menjalankan perintah Tuhan – seperti yang diajarkan dalam surah Al-Muddatstsir di atas – adalah pilihan jalan hidupnya. Inilah tanggung jawab kenabian yang diwariskan para nabi kepada orang-orang berilmu, dengan segala konsekuensinya. Hidup hanya sekali dan semua akan mati. Namun hendaklah hidup ini: sekali berarti, sesudah itu mati.

Makna din (agama) sendiri selain bersifat personal, juga secara inheren bersifat sosial dan kultural. Pembagian ilmu fardlu ‘ain (kewajiban bagi diri) dan fardlu kifayah (kewajiban bagi masyarakat) adalah untuk memastikan realisasi kesejahteraan individu dan sosial. Walaupun telah jelas bahwa ilmu fardlu kifayah berkaitan langsung dengan masyarakat, peranan ilmu fardlu ‘ain berperan signifikan secara tidak langsung. Ilmu fardlu ‘ain akan mengarahkan kerangka dan memberikan motivasi atas prinsip-prinsip ilmu fardlu kifayah. Pemilihan pelajaran dan bidang yang harus ditawarkan dan diajarkan dalam kategori fardlu kifayah hendaknya mempertimbangkan keperluan sosial dan negara.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 3

Dalam perspektif Islam, makna kemajuan masyarakat dan perkembangannya bukanlah perubahan yang terus-menerus menuju masa depan yang tidak pasti. Namun, lebih merupakan “sebuah proses pergerakan Muslim yang telah menyimpang menuju keaslian Islam, perkembangan seperti inilah satu-satunya yang dapat disebut dengan kemajuan yang sebenarnya.” Kemajuan mensyaratkan pencapaian tujuan-tujuan yang telah jelas dalam hidup dan ditetapkan secara permanen; sebab perjuangan menuju tujuan yang terus-menerus berubah bukanlah kemajuan.

Fakta menunjukkan bahwa problem kepemimpinan di negara sedang berkembang berkaitan dengan kurangnya pendidikan yang tepat untuk kalangan pemimpin dan masyarakat awam. Pendidikan yang salah telah menyebabkan disorientasi aksiologi dan moral yang korup pada para pemimpin politik yang bercokol di puncak gelombang kebodohan, tetapi didukung oleh popularitas di bawah naungan demokrasi. Pendidik semestinya tidak dilibatkan dalam partai politik, tetapi dalam pembuatan kebijakan, pendidikan para pemimpin dan masyarakat awam. Sistem pendidikan harus dilandaskan pada fondasi moral yang kukuh dari agama, yang harus tercermin dalam materi pendidikan, khususnya dalam buku-buku teks.

 

Karenanya, pendidikan adalah (pembuat) struktur masyarakat, dengan cara melahirkan individu-individu yang akan menjadi agent of change.

Jadi, suatu filsafat pendidikan Islam yang benar, yang menekankan pertumbuhan dan perkembangan individual, intelektual, dan spiritual secara inheren, sesungguhnya bersifat sosial. Konsep ini hanya mengarahkan perhatian kita pada agen konstruksi dan rekonstruksi sosial yang sebenarnya, yaitu individu, tidak kepada keseluruhan masyarakat. Titik awal dan akhirnya adalah pada pembentukan individu yang baik. Masyarakat atau Negara adalah struktur yang terbentuk dari individu-individu. Karenanya, pendidikan adalah (pembuat) struktur masyarakat, dengan cara melahirkan individu-individu yang akan menjadi agent of change.

Biografi Ustadz Rully Cahyo

ust-rullyLahir di Lamongan pada 22 Desember 1976, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak tahun 1997 telah bergabung dengan LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian Terakhir

Saat ini menjabat sebagai Kepala SMP – SMA Ar-Rohmah Putri “Boarding School” Malang dan sedang menyelesaikan Program S3 Manajemen Pendidikan Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Bersama Konsorsium Pendidikan Islam (KPI) Surabaya aktif dalam beberapa program kegiatan pelatihan dan pengembangan lembaga pendidikan di Indonesia.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 8

Author: Ar-Rohmah Putri

Tinggalkan Balasan