News & Info

TILAWAH

Katakanlah, ”Inilah jalan (agama)ku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajakmu kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik. (Qs. 12: 108)

Makna awal tilawah adalah mengikuti secara langsung dengan tanpa pemisah (tabi’a). Dalam al-Qur’an kata tilawah selalu dikaitkan dengan “ayat-ayat Allah”. Jelas kita melihat bahwa tilawah mengungkapkan aspek praktis, yaitu sebuah tindakan yang terpadu, baik secara verbal, intelektual, maupun fisik dalam mengikuti serta mengejawantakan atau mempraktekkan “ayat-ayat atau pertanda-pertanda Allah” dalam kehidupan. Tilawah merupakan upaya intensif untuk mengikatkan diri kepada sifat-sifat Allah satu demi satu, selangkah demi selangkah, hingga mencapai taraf tertentu yang dipersyaratkan untuk siap mengikuti tingkatan selanjutnya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan bahwa langkah bagi seorang salik (penempuh jalan spiritual) adalah mencari guru yang benar. Hal ini juga berlaku bagi seorang pencari ilmu, karena pada dasarnya perjalanan mencari ilmu adalah suatu perjalanan spiritual (suluk) untuk mendekat kepada Allah. Guru tersebut adalah orang “yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS.18:65) dan yang berhati ikhlas. Hanya guru yang telah mendapat hidayah-Nya yang dapat membimbing/mengantarkan para murid untuk menjemput hidayah (petunjuk). Sebab bagaimana seseorang bisa memandu orang lain menempuh sebuah jalan, kalau ia sendiri belum pernah melewatinya?

Guru yang dimaksud di atas adalah para ulil albab sebagaimana yang disebutkan dalam Qs.Ali Imron:19. Ulil albab orang-orang yang gemar melakukan tafakkur dan dzikir.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 2

Tafakkur adalah sebuah metode mempelajari alam semesta dengan diiringi kesadaran spiritual. Pada saat seseorang memikirkan alam semesta ia akan selalu mencoba menyambungkannya dengan keberadaan Allah ta’ala. Dengan demikian, tafakkur akan menyampaikan seorang pencari ilmu pada Sang Pencipta karena pencariannya akan realitas di balik benda material hanya akan berakhir pada Sang Pencipta. Tafakkur akan mempersiapkan ketajaman akal (ruh) seseorang. Tafakur ini secara implisit mensyaratkan adanya ilmu yang luas dan mendalam. Sebab tanpa keluasan dan kedalaman ilmu seseorang tidak akan dapat memahami kebesaran, keagungan dan sifat-sifat Sang Pencipta dengan tepat.

Sedangkan dzikir adalah sebuah kegiatan di mana seseorang mencurahkan segala konsentrasi dan pemikirannya untuk mengingat, memikirkan, mengagumi dan merasakan keberadaan Allah swt. Seorang ahli dzikir akan merasakan kesan nyata di dalam hatinya, sehingga bekas-bekas keagungan Allah akan terlihat jelas. Dzikir memperuncing cita rasa (dzawq) sehingga ia merasakan pengalaman transrasional.

Adanya akumulasi informasi yang sedemikian rupa banyaknya dalam kehidupan ini dan tanpa tahu validitasnya akan menyebabkan ruh seseorang pada kondisi dhall (kebingungan). Tafakkur dan Dzikir akan mengantarkan ruh seseorang menjemput hidayah (petunjuk). Hidayah adalah sebuah posisi dimana seseorang yang sebelumnya dalam posisi kebingungan dan kesesatan (dhall), tiba-tiba menemukan jalan yang benar. Hidayah adalah pemberian yang diberikan oleh Allah kepada seseorang karena kemurahan-Nya, sehingga ia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Dengan hidayah inilah murid akan mengenal Allah swt sebagai Rabb dan Ilah dengan benar (ma’rifatullah). Dengan ma’rifatullah murid akan terhindar dari kebingungan dan kesesatan (dhalal). Jadi tilawah adalah sebuah upaya untuk mengeluarkan seseorang jalan yang sesat dan menempatkan di jalan yang benar,  mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 5

Dalam proses tilawah ini murid dipersiapkan dalam mengenal dan memahami agamanya (al-i’dad ad-diini wa ats-tsaqafi). Agar proses ini berjalan dengan baik, maka baik guru dan murid harus mengamalkan adab-adab yang benar.

Biografi Ustadz Rully Cahyo

ust-rullyLahir di Lamongan pada 22 Desember 1976, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak tahun 1997 telah bergabung dengan LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang.

Saat ini menjabat sebagai Kepala SMP – SMA Ar-Rohmah Putri “Boarding School” Malang dan sedang menyelesaikan Program S3 Manajemen Pendidikan Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Bersama Konsorsium Pendidikan Islam (KPI) Surabaya aktif dalam beberapa program kegiatan pelatihan dan pengembangan lembaga pendidikan di Indonesia.

Baca Juga:  Pendidikan Berbasis Tauhid – Bagian 3

Author: Ar-Rohmah Putri

Tinggalkan Balasan